Stok Pangan Stabil, Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat !!! :::REFLEKSI PERINGATAN HARI PANGAN SEDUNIA KE 40::::

Spread the love
Kepala Dinas Pangan Kota Salatiga – Roch Hadi,SH,MM

Hari Pangan Sedunia (HPS) merupakan momentum International yang jatuh pada tanggal 16 Oktober dan diperingati setiap tahun oleh 197 negara anggota Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) termasuk Indonesia khususnya Provinsi Jawa Tengah yang selalu diselenggarakan secara marak. Berbeda dengan tahun sebelumnya, peringatan HPS ke 40 Tahun ini ditiadakan karena masih dalam suasana pandemi Covid-19.

Pandemi ini menyebabkan gangguan sistem logistik global yang berdampak pada persoalan akses pangan.  Indonesia sebagai negara berkembang dan beberapa negara lain yang memiliki tingkat ekonomi serupa atau dibawah Indonesia, masalah akses pangan yang timbul umumnya dipengaruhi penghasilan masyarakat yang tidak memadai, bahkan sekedar untuk membeli pangan pokok. Banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi covid-19, menyumbang andil pada menurunnya ketahanan pangan sampai masyarakat sehingga harus bergantung kepada bantuan Pemerintah.

Ketahanan Pangan menurut World Food Summit (1966) menyebutkan bahwa ketahanan pangan terjadi saat semua orang, kapan saja, memiliki akses fisik dan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi makanan yang aman dan bergizi dengan cukup untuk kehidupan yang sehat dan aktif. Hal ini dapat diidentifikasi dari empat indikator, yaitu ketersediaan pangan secara fisik (physical availability), akses secara ekonomi dan fisik untuk mendapatkan bahan pangan (economic and physical availability), pemanfaatan bahan pangan (food utilisation), dan stabilitas dari ketiga indikator tersebut.

Jika dilihat dari indikator tersebut, untuk menjaga ketahanan pangan, tidak cukup jika hanya menitikberatkan pada masyarakat atau pemerintah. Perlu ada sinergi dan usaha mulai dari tingkat individu, rumah tangga, masyarakat, sektor privat (perusahaan), dan pemerintahan sebagai pemangku kebijakan.

Mengutip dari pendapat dosen Rekayasa Pertanian ITB, Ramadhani Eka Putra,Ph.D, ia menjelaskan bahwa “pada 2050 penduduk dunia akan bertambah 2 miliar, maka dari itu produksi pangan harus ditingkatkan sebesar 70%. Dalam peningkatan pangan ini tentu saja akan dihadapkan dengan constraint. “Menurut prediksi United Nations, pada 2050, maksimal hanya terdapat 20% daerah yang bisa ditanami sehingga akan menimbulkan krisis pangan atau mungkin sebenarnya bahan pangan itu ada tetapi akses untuk mendapatkanya menjadi sulit”. Prediksi tersebut juga menyertakan variabel pandemi didalamnya. Seperti yang kita ketahui, pandemi Covid-19 membuat segalanya berubah tanpa ada persiapan apapun. Seperti yang terjadi di Negara Ukraina sebagai salah satu penghasil gandum terbesar di dunia saat menghadapi Covid-19. Warga negara Ukraina memiliki ketergantungan akan makanan berbahan dasar gandum, namun saat pandemi berlangsung para petani tidak ingin menjual gandum yang telah diproduksi. Mereka menyimpan gandum tersebut untuk dikonsumsi sendiri. Sehinga, gandum menjadi barang langka dan masyarakat nonpetani gandum mengalami kesulitan untuk mendapatkanya. Masih menurut Rama –panggilan akrabnya- agar Indonesia tidak mengalami hal tersebut,maka ada beberapa solusi untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia

  1. Belajar sains dan teknologi

Secara sederhana,  pertanian merupakan proses merubah energi dari matahari menjadi senyawa karbon yang dapat digunakan sebagai sumber energi. Dengan belajar sains dan teknologi memungkinkan untuk membangun model matematika dan algoritma sehingga produksi pertanian menjadi terotomatisasi dan maksimal. Dengan begitu diharapkan kebutuhan pangan menjadi terpenuhi dan meminimalisir kelangkaan pangan.

  • Home Gardens

Sebagai sistem pertanian lokal khas Indonesia yang dapat ditemukan pada sebagian besar daerah rural di Indonesia. Konsep pertanian ini dengan menanam tanaman yang bisa dikonsumsi di pekarangan rumah sehingga tiap rumah bisa mengakomodasi kebutuhan pangannya sendiri.

  • Hyper Urban Farming

Dilakukan di daerah urban dengan kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi sangat tinggi yang menggabungkan inovasi, konsep permakultur dan micro-scale bioscience. Namun sistem pertanian ini belum banyak dilakukan di Indonesia Karena keterbatasan teknologi.

  • Hydroponics and Aquaponics

Sistem pertanian yang menghilangkan unsur tanah di dalamya sudah banyak dilakukan di Indonesia namun diversitas produknya masih rendah.

  • Forest Gardening

Merupakan sistem produksi makanan dan sistem manajemen lahan yang meniru ekosistem hutan. Pohon dan tumbuhan liar diganti dengan pohon buah, semak, herba dan sayuran.

Dari kelima solusi tersebut, yang bisa dilakukan warga negara Indonesia untuk menjaga ketahanan pangan secara mandiri yaitu home gardening dan hidroponik atau aquaponics. Lahan yang ada sebaiknya ditanam pohon yang bisa dikonsumsi dan bermanfaat langsung bagi manusia daripada tanaman hias. Misalnya, di pekarangan rumah tanamlah pohon mangga, jambu, rambutan dan nangka.

Dinas Pangan Kota Salatiga di masa pandemi sudah melaksanakan beberapa program dan kegiatan untuk menjaga ketahanan pangan : Pelatihan Hidroponik bagi Pokmas / KWT; Pembagian bibit sayur untuk optimalisasi pekarangan, Program Desa Mandiri Pangan dengan pemberian ternak dan bibit sayur, Percontohan Budikdamber (Budidaya Ikan dalam emeber) bagi masyarakat, Pelatihan Manajemen Lumbung Pangan Desa serta serta pengisian lumbung dengan Gabah Kering Giling di Lumpung Pangan Tingkat Kota dan Lumbung Pangan Masyarakat di Kecamatan Tingkir, Sidomukti dan Sidorejo.

Pada akhirnya, Ketahanan Pangan merupakan kebutuhan bersama untuk mewujudkan Kedaulatan Pangan. Oleh karenya, dimomentum Hari Pangan Sedunia ke 40 tahun 2020 ini, Dinas Pangan Kota Salatiga sebagai Dinas yang membidangi Ketahanan Pangan di Kota Salatiga mendorong semua pihak untuk terlibat secara aktif dalam mewujudkan Ketahanan Pangan dengan mengoptimalkan pekarangan  dan potensi pangan lokal yang ada disekitar kita. (en-u).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *