Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kota Salatiga Tahun 2020

Spread the love

Berbicara masalah ketahanan pangan, tidak cukup hanya masalah produksi, tetapi produksi tersebut harus bisa didistribusikan ke seluruh pelosok tanah air agar masyarakat dapat mengakses pangan dan pangan yang dikonsumsi harus beragam, bergizi, seimbang, aman dan halal. Melihat posisinya yang sedemikian kompleks menunjukkan secara jelas bahwa pembangunan ketahanan pangan tidak dibebankan hanya kepada satu institusi, tetapi melibatkan multi sektor dan disiplin ilmu pengetahuan. Kerjasama ini sangat penting untuk membangun ketahanan pangan melalui tiga sub sistemnya : ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan. Sehingga diperlukan suatu wadah untuk melakukan koordinasi tersebut.

Wadah koordinasi yang dimaksud adalah Dewan Ketahanan Pangan (DKP), lembaga non struktural yang tertuang dalam Perpres No.83 Tahun 2006, dan di tingkat Daerah, langsung diketuai oleh Wali kota. Koordinasi ini diarahkan untuk menghimpun kekuatan bersama berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) yang memiliki komitmen tinggi pada isu ketahanan pangan, untuk menciptakan kekuatan lebih besar dalam mencapai tujuan bersama yaitu mengikis kelaparan dan kemiskinan. Selain itu juga untuk menjembatani implementasi pelaksanaan program Ketahanan Pangan dan kebijakan-kebijakan pendukung di tingkat Kabupaten/kota.

MENJAGA STABILITAS PASOKAN, CADANGAN DAN HARGA PANGAN MELALUI SISLOGDA dan DIVERSIFIKASI PANGAN DI MASA PANDEMI

Stabilitas harga pangan mempunyai peran strategis dalam memantapkan ketahanan pangan, ketahanan ekonomi dan ketahanan/ stabilitas politik nasional. Pengalaman tahun 1996 dan tahun 1998 menunjukkan bahwa goncangan politik dapat berubah menjadi krisis politik, hal ini terjadi karena faktor kenaikan harga pangan yang melonjak dalam waktu dekat. Stabilitas harga pangan kembali diuji saat masyarakat melakukan “panic buying ” akibat pandemi Covid-19, sehingga beberapa komoditi sempat mengalami kenaikan harga. Atau disaat lain, ketika ketersediaan dan distribusi pangan tidak mampu mencukupi kebutuhan akibat daya serap panen belum optimal / pasokan tidak stabil saat panen raya mengakibatkan Fluktuasi Pasokan dan Harga antar waktu dan antar wilayah tidak stabil. Disinilah pentingnya kebijakan SISLOGDA untuk mewujudkan Stabilitas Pangan (Pasokan  dan Harga)

Tujuan SISLOGDA sebagai sarana memotong rantai distribusi, memberlakukan harga wajar untuk produsen dan konsumen serta meningkatkan kesejahteraan petani (NTP = Nilai Tukar Petani).

Di Kota Salatiga, sudah ada beberapa langkah yang ditempuh untuk Mewujdkan SISLOGDA , berupa langkah Jangka Pendek yaitu :  Perbaikan atap lantai jemur Lumbung Pangan Prima Agung di Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo dengan lantai jemur seluas 700m² dengan 1 unit RMU – Rice Milling Unit. Keberadaan lumbung pangan adalah salah satu infrastruktur pendukung untuk menjamin cadangan pangan Pemerintah dan masyarakat. Kegiatan lain adalah pemantauan secara harian dan mingguan harga pangan strategis (beras,jagung, gula, kedelai dan daging) agar tersedia data yang konsisten serta sebaran harga pangan strategis di tingkat produsen dan di tingkat konsumen yang dapat dipercaya. Pengelolaan pasokan pangan dan cadangan penyangga untuk menjaga stabilitas harga pangan agar tersedia pasokan pangan, terutama pada saat paceklik, gagal panen dan bencana alam dalam bentuk Gabah Kering Giling. Tahun 2020 ini, Pemerintah Kota Salatiga telah mengeluarkan kebijakan dengan merefocussing anggaran sebesar Rp 400.000.000,- (Empat ratus juta rupiah) untuk memperbanyak cadangan pangan sebesar 49 ton GKG yang dititipkan di Gapoktan Prima Agung; Kegiatan lain adalah Gelar Pangan Murah dan Toko Tani Indonesia yang diselenggarakan 2x dalam setahun.

Dimasa pandemi ini, Menteri Pertanian RI mengeluarkan surat nomor 95/KKN.220/M/6/2020 Tanggal 5 Juni 2020 perihal himbauan untuk mengkonsumsi pangan lokal dan ditindaklanjuti Surat Edaran Wali kota Salatiga untuk mengkonsumsi Pangan Lokal nomor 520/347/415 Tanggal 27 Juli 2020,himbauan itu berisi :

  1. Masyarakat agar mengkonsumsi menu makanan/pangan lokal non beras minimal 1 hari dalam 1 bulan;
  2. Menggunakan menu makanan/pangan lokal dan buah-buahan produksi dalam negeri pada saat rapat dan pertemuan yang diselenggarakan di lingkungan Pemerintah Daerah.
  3. Khusus kepada Lurah menginformasikan kepada masyarakat di wilayahnya melalui Ketua RT dan Ketua RW.

Pengembangan Pangan Lokal, memiliki potensi bisnis yang menjanjikan untuk menambah pemasukan masyarakat, menyerap tenaga kerja dan menambah khasanah potensi pangan suatu daerah sebagai wisata kuliner.

Pada Tanggal 6 Agustus 2020, diselenggarakan Rakord PIPL( Pengembangan Industri Pangan Lokal) 1000 Se-Jawa Tengah  di Tahun 2020. Sumber daya lokal Nusantara yang melimpah berupa 100 jenis tanaman sumber karbohidrat, 100 jenis kacang-kacangan, 250-an jenis sayuran dan 450-an jenis buah-buahan, pemanfaatanya masih sangat terbatas dan belum secara massif dimanfaatkan oleh industri pangan nasional.

Potensi pangan lokal ini harus didorong melalui pemberdayaan UMKM kearah industrialisasi dan komersialisasi hingga marketing digital untuk meningkatkan pendapatan dan skala usaha. Di dalam action plan diversifikasi pangan, ada 3 tahapan :

  1. Ketersediaan bahan baku pangan lokal  melalui peningkatan produktivitas  dan memperluas areal pertanaman;
  2. Akses mendapatkan pangan lokal melalui stabilitas pasokan dan harga serta memperluas skala usaha dan kemitraan;
  3. Pemanfaatan pangan lokal melalui Edukasi dan Promosi.

Adapun Pentahapan Kegiatan di Tahun 2020 ini , dilakukan Edukasi dan Kampanye ke Masyarakat tentang Diversifikasi produk pangan Lokal, Menciptakan Outlet Pangan Lokal dan Pembinaan Produksi dan Branding UMKM.

2 Balasan untuk “Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kota Salatiga Tahun 2020”

  1. Merubah minset makan hrs berupa nasi msh jadi PR besar. Ini menyangkut perilaku dan budaya sejak dari lahir dan untuk merubahnya perlu konsistensi program, akurasi target, terus menerus dan masif. Keteladan para pemimpin formal dan non formal dalam perilaku sehari-hari sangat penting, tidak sekadar kampanye dan orasi saja. Peran ibu-ibu muda menjadi sangat penting unt unt merubah minset dan menyiapkan generasi baru yg sadar dg keanekaragaman pangan, kearifan lokal, kemandirian pangan dan kesehatan. Selamat berjuang di negara yg kaya dg berbagai bahan pangan lokal.

    1. njih, leres pak…
      merubah mindset memang membutuhkan waktu yang lama,
      semoga dengan program Diversifikasi Pangan yang semakin inovatif, edukasi ke semua elemen masyarakat terus digalakkan dan didukung dengan kebijakan pemerintah yang pro pangan lokal beserta penguatan sarana marketingnya, menjadikan pangan lokal dengan kearifan lokalnya mampu mendukung ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. mohon arahan dan bimbingan selalu. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *