MANFAATKAN SUMBER PANGAN LOKAL DISEKITAR KITA Murah, Mudah dan Bergizi Tinggi

Hippocrates, Bapak Kedokteran Dunia berpesan kepada sesama koleganya “Leave your drugs in the chemists pot if you can heal the patient with food”  . menurut Bapak Kedokteran Dunia, Makanan yang baik bisa berfungsi sebagai obat bagi tubuh kita. Sisi fungsional dari makanan menjadi pertimbangan utama agar ia dapat  menunjang hidup sehat. Komponen antioksidan dan senyawa bioaktif lainnya dalam makanan fungsional diyakini dapat mencegah gangguan kesehatan tubuh. Zat ini menjadi senjata pemusnah yang siap pasang badan untuk memberi perlindungan dari gempuran radikal bebas. Radikal bebas ini berbahaya karena akan menyerang dan merusak molekul makro komponen sel, yaitu lemak, protein dan DNA (deoxyribo nucleic acid) dan  kemudian menjalar pada kerusakan jaringan yang mempercepat proses penurunan daya tahan tubuh dan penuaan dini.

Penurunan daya tahan tubuh akan memudahkan penyakit degenerative seperti kanker, jantung coroner, osteoporosis dan diabetis hinggap dalam tubuh. Fenomena ini didorong kehadiran radikal bebas yang bersumber dari  polusi udara dan pola makan yang salah, seperti terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak dan kolesterol.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah pangan lokal mampu mengatasi penyakit degenerative  ?, meski belum  ada hasil peneitian yang menjadi rujukan ilmiah untuk membuktikan hal itu, sejak lama sudah  diketahui jika pangan lokal dan makanan traditional memiliki kandungan senyawa bioaktif dan beragam antioksidan yang mampu mendepak peradanga sel. Klaim khasiat tersebut lebih banyak diperoleh dari bukti empiris ketimbang uji klinis yang berstandard international.    

Sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 2020 tentang upaya menjaga ketahanan pangan nasional pada saat Corona Virus Diseases 2019 dan surat Menteri Pertanian Nomor 95/KKN.220/M/6/2020 tanggal 5 Juni 2020 perihal himbauan untuk mengkonsumsi pangan lokal maka Dinas Pangan Kota Salatiga Mengeluarkan Surat Edaran Nomor      Gerakan Sehari Tanpa Nasi. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Masyarakat agar mengkonsumsi menu makanan/pangan lokal non beras minimal 1 hari dalam 1 bulan;
  2. Memanfaatkan menu makanan/pangan lokal non beras produksi dalam negeri dan buah-buahan lokal Indonesia pada saat rapat dan pertemuan yang diselenggarakan di Kota Salatiga
  3. Mensosialisasikan secara massif terhadap Surat Edaran tersebut, sehingga berdampak terhadap perubahan kebiasaan dan perubahan pola pangan di masyarakat Kota Salatiga.

Diversifikasi produk pangan lokal tidak hanya beras akan tetapi  Jagung, Ubi Jalar/ubi manis, Sukun, Sagu, Ubi Kayu, Ganyong, Garut, Talas, suweg dan Sorghum. Sehari tanpa nasi akan menambah keragaman gizi . selain itu, olahan pangan lokal mampu mengangkat cita rasa dan nilai jual produk pangan lokal sehingga semakin digemari masyarakat.

Olahan pangan lokal yang bisa di jadikan alternative adalah Tumpeng Jagung, Mie Jagung, Brownies kukus talas, Nasi ubi kayu, Nasi Talas, Bakwan Jagung, Roti Sorghum, Mie Sukun, Kremes Ubi Jalar.

Jika pangan lokal ini diolah menjadi aneka pangan yang kreatif dan menarik serta  bercita rasa tinggi, maka akan membuka peluang bisnis yang menjanjikan dan mengangkat kekayaan hayati pangan lokal. Sehingga, masih sangat potensial untuk dikembangkan menjadi aneka menu menarik saat sajian rapat / hajatan / kegiatan pertemuan.

Jadi, Jangan GENGSI untuk mengkonsumsi PANGAN LOKAL !!! (Niesh)

PENGEMBANGAN PROGRAM OPAL SELAMA PANDEMI COVID19

Dinas Pangan Kota Salatiga terus berupaya mewujudkan ketahanan pangan nasional dengan pemanfaatan lahan pekarangan ini dijadikan sebagai sumber pangan dan gizi keluarga.

Menurut  Badan Ketahanan (BKP) Kementrian Pertanian melaksanakan Obor Pangan Lestari (OPAL) Mulai Tahun 2019. Melalui program OPAL, BKP RI meminta seluruh kantor lingkup Kementrian Pertanian dan Dinas lingkup pertanian Provinsi/Kabupaten/Kota serta UPT Vertikal memanfaatkan area perkantoran dengan menanam berbagai komoditas sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral.

OPAL di Dinas Pangan Kota Salatiga, pada awal berdirinya Tahun 2019, dengan mendapatkan bantuan dana APBN  berupa pembangunan 1 unit OPAL, aneka bibit sayur dan pupuk bokasi (pupuk padat). Tujuan jangka pendek pelaksanaan OPAL adalah untuk pemanfaatan lahan perkantoran sebagai penyedia pangan dan sebagai percontohan untuk masyarakat dalam memanfaatkan pekarangan.

Sedangkan jangka panjang untuk meningkatkan penyediaan sumber pangan keluarga yang Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA), meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat; meningkatkan pendapatan rumah tangga; meningkatkan akses pangan keluarga; konservasi sumberdaya genetic lokal; dan mengurangi jejak karbon serta emisi gas pencemar udara.

Pada tahun 2020, keberadaan OPAL di Dinas Pangan Kota Salatiga lebih dimaksimalkan peranananya.  Terutama di saat pandemi  COVID19 dan pembatasan aktivitas-aktivitas karena Refocussing Anggaran OPD. Dibawah Komanda Sekretaris Dinas Pangan, pegawai Dinas Pangan mengisi aktivitas hariannya dengan mengoptimalkan OPAL sebagai sarana bercocok tanam dengan mengisinya dengan beraneka sayur dan buah. Sayur yang menjadi komoditas OPAL adalah sawi, bayam, timun, kangkung, tomat dan pare. Adapun untuk komoditi buah-buahan adalah pepaya, jeruk, jambu air, jambu biji dan makisa.

Kegiatan mengoptimalkan OPAL Dinas Pangan pada Tahun 2020, dimulai dengan penyiapan media tanam, penyiapan pembenihan didalam tray, penyiapan polybag dan perawatan. Semua aktivitas untuk mengoptimalkan keberadaan OPAL, didukung oleh semua pegawai Dinas Pangan Kota Salatiga, sebagai bagian dari menunjang ketahanan pangan dan sarana percontohan bagi masyarakat. Tetap Sehat, Tetap Semangat !!!