Monitoring Kelompok P2L (Program Pangan Lestari) Kota Salatiga

PROGRAM PANGAN LESTARI (P2L):

Sumber Pangan Kami Berasal dari Pekarangan Kami

Ketahanan Pangan yang bersumber dari Rumah Tangga

Berdasarkan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, mengamanatkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sesuai dengan potensi kearifan lokal guna mewujudkan hidup sehat, aktif, dan produktif. Upaya penganekaragaman pangan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 26 pada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi, salah satunya dapat melalui optimalisasi pemanfaatan lahan.

Menindak lanjuti arahan Presiden RI pada acara konferensi Dewan Ketahanan Pangan pada bulan Oktober 2010 di Jakarta tentang Ketahanan dan kemandirian pangan nasional harus dimulai dari rumah tangga. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau”. Berdasar definisi tersebut, pemantapan ketahanan pangan dapat dilakukan melalui pemantapan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan

Dari segi harfiah atau makna Bahasa, yang dimaksud pekarangan adalah sebidang tanah yang berada di sekitar rumah yang digunakan untuk tempat bermain anak-anak, untuk acara keluarga dan acara keakraban, serta ditanami dengan berbagai jenis tumbuhan dan tanaman serta tempat pemeliharaan berbagai jernis ternak dan ikan.

Sedangkan secara maknawi pekarangan adalah sebidang tanah di sekitar rumah yang umumnya dikelilingi pagar, bila dimanfaatkan secara maksimal dapat berperan sebagai pemberi keindahan dan keasrian, sekaligus apotik hidup dan warung hidup yang memudahkan kita memperoleh obat alami dan bumbu dapur yang masih segar. Pemanfaatan tanah pekarangan dapat dilakukan dengan budidaya sistem vertikultur, potisasi, tabulampot, serta diversifikasi tanaman pangan.

Kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kota Salatiga dalam upaya memperluas penerima manfaat dan pemanfaatan lahan, pada tahun 2020 berubah nama menjadi Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Kegiatan P2L merupakan upaya untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan pangan bagi rumah tangga sesuai dengan kebutuhan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman serta berorientasi pasar untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui pemanfaatan lahan pekarangan, lahan tidur dan lahan kosong yang tidak produktif.

Kegiatan P2L di Kota Salatiga pada Tahun 2020, dibedakan menjadi kelompok penumbuhan dan kelompok Pengembangan. Kegiatan P2L merupakan kegiatan pemberdayaan kelompok masyarakat yang meliputi kegiatan budidaya berbagai jenis tanaman melalui kegiatan kebun bibit, demplot, pertanaman, dan pasca panen serta pemasaran.

Pelaksanaan P2L di Kota Salatiga di Tahun 2020, terdiri dari 2 kelompok ; P2L Pengembangan dan P2L Penumbuhan.   Kelompok pengembangan terdapat di KWT Mekar Lestari dan KWT Dahlia. Adapun kelompok Pengembangan terdiri dari 4 kelompok, yaitu KWT Amanah Kelurahan Kutowinangun Lor, Tingkir ; KWT Sukasari Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo; KWT Sembodro Kelurahan Mangunsari Sidomukti, KWT Sri Rejeki Kelurahan Bugel Kecamatan Sidorejo.

Ditetapkannya COVID-19 sebagai pandemi, akan memberikan multiplayer effect bagi semua tatanan kehidupan. Mulai dari sektor kesehatan, ekonomi, financial, kelancaran distribusi bahan pangan hingga perubahan kehidupan sosial masyarakat. Tidak hanya dikota besar, di kota kecil nan sejuk seperti Kota Salatiga, juga terkena dampaknya.  Kebutuhan mendasar dan mendesak yang paling  terasa adalah ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat, terlebih ketika bertepatan pada bulan Ramadhan kemarin. Ketersediaan bahan pangan ini adalah nafas panjang yang jika tidak diseriusi, akan memunculkan permasalahan baru di masyarakat.

Ketersediaan bahan pangan sangat mungkin dimunculkan dari halaman rumah kita. jika semua masyarakat menyadari hal tersebut, kebutuhan pangan kita tidak sepenuhnya tergantung dari pasar. Salah satu hal yang dapat diapresiasi adalah kegiatan KWT Mekar Lestari, Kelurahan Randuacir Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. Melalui Kelompok P2L (Program Pangan Lestari) yang berdiri tahun 2019 dengan mendapatkan Bantuan dari APBN 2019 melalui Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian Republik Indonesia, sangat merasakan dampak yang signifikan di era pandemic COVID-19 sekarang. Ibu-ibu anggota kelompok masih tetap beraktivitas dan menghasilkan aneka sayuran sehingga mereka dapat menghemat belanja untuk kebutuhan dapur setiap hari. hasil panen yang bisa dipetik, mampu mencukupi kebutuhan anggota keluarganya, dan tidak jarang diberikan kepada keluarga yang bukan anggota kelompok, bahkan suda ada kelompok yang mampu menjual hasil tanaman di pekarangan  sehingga bisa menambah pendapatan keluarga. Komoditas yang spesifik di KWT Mekar Lestari, Randuacir Salatiga  yaitu tanaman ADAS, yang sangat cocok untuk diolah menjadi bobor, urap atau gudangan, rasanya seperti mint segar dan menghangatkan tubuh, sehingga imunitas tubuh juga meningkat. Daun adas juga sangat bagus untuk membantu meningkatan produksi ASI, sehingga program ASI eksklusif bisa tetap jalan. Jadi Jangan takut turun gengsi karena mengkonsumsi produk lokal.  

Berlangsungnya pandemi COVID19 yang menuntut masyarakat untuk stay at home dan menjaga jarak aktivitas. Bertanam, selain sehat dan menyenangkan juga mampu menghasilkan karena ketersediaan pangan berupa sayur-mayur yang dipetik dari pekarangan. Sejak awal masa pandemi hingga sekarang (3 bulan) sudah banyak masyarakat yang mengajukan permohonan bantuan stimulan bibit sayur ke Dinas Pangan Kota Salatiga. Kelompok/masyarakat yang mengajukan permohonan ini pada umumnya sudah memiliki cikal – bakal kelompok sehingga memiliki kemampuan dan kemauan untuk mengembangkan kegiatan menanam sayur.

Kunci Keberhasilan Program

Kunci keberhasilan dalam keberlangsungan P2L adalah dengan mengembangkan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture), ada 3 (tiga) komponen keberhasilannya sebagai berikut :

  1. Tersedianya kebun bibit

Meliputi kegiatan

  • pembangunan rumah bibit;
  • pengadaan aneka benih tanaman sayuran, buah, dan atau aneka umbi;
  • pengadaan peralatan dan media tanam, seperti polybag, pot, rak, kompos dan pupuk.
  • Demplot
  • Pengadaan aneka bibit tanaman sayuran, buah, dana tau aneka umbi;
  • Pengadaan peralatan dan media tanam
  • Penyediaan sarana air sederhana (pompa, penampung air, instalasi air,dll)
  • Pertanaman

Pengadaan peralatan dan media tanam seperti polybag, pot, rak, kompos, pupuk, dan atau kebutuhan yang lain dalam pertanaman pekarangan anggota.

  • Pasca Panen dan Pemasaran

Sarana dan prasarana pengemasan / fresh handling product

Program Pangan Lestari memberikan banyak manfaat bagi pelakunya seperti :

  1. Kemudahan mengakses pangan dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Banyak ibu rumah tangga yang selama ini membeli kebutuhan pangan keluarganya ke pasar dan harus mengeluarkan biaya transport atau menunggu tukang sayur keliling. Namun setelah ibu rumah tangga memanfaatkan pekarangannya justru yang terjadi adalah bahwa, mereka tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan untuk keluarga dan menghemat biaya transport kepasar tetapi justru mereka bisa menjual hasil pekarangannya kepada tukang sayur langganan mereka untuk dijual di daerah lain.
  2. Mendukung pemenuhan gizi anggota keluarga dengan baik. Kecenderungan masyarakat yang belum memperhatikan kecukupan dan keseimbangan gizi keluarga yang salah satu faktor penyebab adalah karena keterbatasan keuangan untuk membeli bahan pangan yang bergizi, sudah dapat diatasi dengan hasil pangan dari pekarangan yang telah memenuhi kecukupan gizi.
  3. Pengehematan pengeluaran rumah tangga untuk pembelian pangan karena sudah dapat dipenuhi dari pekarangan sendiri. Kebutuhan bahan pangan sehari-hari seperti cabe, tomat, sayuran, dan bumbu dapur bahkan ikan dana yam serta telur sudah dapat dipenuhi dari pekarangan sendiri, sehingga tidak harus membeli lagi dan dananya dapat dihemat untuk keperluan rumah tangga lainnya.
  4. Penambahan pendapatan rumah tangga apabila produksi masih berlebih setelah kebutuhan keluarga terpenuhi. Kenyataan membuktikan bahwa apabila potensi pekarangan dapat dioptimalkan pemanfaatannya akan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi rumah tangga.
  5. Membantu pelestarian lingkungan karena

 Komoditas lain yang dihasilkan selain adalah cabe rawit, sawi bakso, sayur kangkung, sayur bayam, cabe keriting, kacang panjang, terong, buncis, tomat, sawi sendok, pare, seledri, jeruk dan kelor. Dengan banyaknya manfaat yang bisa diambil dari kegiatan P2L ini sangat diharapkan mampu diduplikasi oleh anggota pengajian / kelompok masyarakat/  anggota dasa wisma dan PKK yang ada di Kota Salatiga. 

Tetap semangat untuk para Ibu Pejuang Ketahanan Pangan Keluarga, senantiasa bersyukur, tetap sehat dan  jangan lupa bahagia (Niesh)