PENGEMBANGAN PROGRAM OPAL SELAMA PANDEMI COVID19

Dinas Pangan Kota Salatiga terus berupaya mewujudkan ketahanan pangan nasional dengan pemanfaatan lahan pekarangan ini dijadikan sebagai sumber pangan dan gizi keluarga.

Menurut  Badan Ketahanan (BKP) Kementrian Pertanian melaksanakan Obor Pangan Lestari (OPAL) Mulai Tahun 2019. Melalui program OPAL, BKP RI meminta seluruh kantor lingkup Kementrian Pertanian dan Dinas lingkup pertanian Provinsi/Kabupaten/Kota serta UPT Vertikal memanfaatkan area perkantoran dengan menanam berbagai komoditas sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral.

OPAL di Dinas Pangan Kota Salatiga, pada awal berdirinya Tahun 2019, dengan mendapatkan bantuan dana APBN  berupa pembangunan 1 unit OPAL, aneka bibit sayur dan pupuk bokasi (pupuk padat). Tujuan jangka pendek pelaksanaan OPAL adalah untuk pemanfaatan lahan perkantoran sebagai penyedia pangan dan sebagai percontohan untuk masyarakat dalam memanfaatkan pekarangan.

Sedangkan jangka panjang untuk meningkatkan penyediaan sumber pangan keluarga yang Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA), meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat; meningkatkan pendapatan rumah tangga; meningkatkan akses pangan keluarga; konservasi sumberdaya genetic lokal; dan mengurangi jejak karbon serta emisi gas pencemar udara.

Pada tahun 2020, keberadaan OPAL di Dinas Pangan Kota Salatiga lebih dimaksimalkan peranananya.  Terutama di saat pandemi  COVID19 dan pembatasan aktivitas-aktivitas karena Refocussing Anggaran OPD. Dibawah Komanda Sekretaris Dinas Pangan, pegawai Dinas Pangan mengisi aktivitas hariannya dengan mengoptimalkan OPAL sebagai sarana bercocok tanam dengan mengisinya dengan beraneka sayur dan buah. Sayur yang menjadi komoditas OPAL adalah sawi, bayam, timun, kangkung, tomat dan pare. Adapun untuk komoditi buah-buahan adalah pepaya, jeruk, jambu air, jambu biji dan makisa.

Kegiatan mengoptimalkan OPAL Dinas Pangan pada Tahun 2020, dimulai dengan penyiapan media tanam, penyiapan pembenihan didalam tray, penyiapan polybag dan perawatan. Semua aktivitas untuk mengoptimalkan keberadaan OPAL, didukung oleh semua pegawai Dinas Pangan Kota Salatiga, sebagai bagian dari menunjang ketahanan pangan dan sarana percontohan bagi masyarakat. Tetap Sehat, Tetap Semangat !!!

Survei Kepuasan Masyarakat, Persepsi Kualitas Pelayanan dan Persepsi Korupsi Pelayanan Publik Provinsi Jawa Tengah

  • Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan melaksanakan survei kepuasan masyarakar, persepsi kualitas layanan dan persepsi korupsi pada unit pelayanan publik di Provinsi Jawa Tengah.
  • Survei kepada seluruh lapisan masyarakat Jawa Tengah dan Masyarakat luar Jawa Tengah yang pernah mendapatkan layanan publik di Jawa Tengah dilaksanakan melalui penyebaran kuesioner secara daring/online melalui tautan http://bit.ly/SKM_IPKP_IPP
  • Survei akan dilaksanakan selama 30 (tiga puluh) hari terhitung mulai tanggal 30 Juli 2020 sampai dengan 31 Agustus 2020.
  • Hasil survei akan diinformasikan secara terbuka dan akan bermanfaat sebagai data penyanding/second opinion bagi unit penyelenggara pelayanan publik di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang sudah melaksanakan survei dan gambaran obyektif bagi yang belum melaksanakan.

Untuk informasi lebih lanjut dapat mengkontak admin di nomer (0298) 3432545

Kunker Komis B DPRD Kabupaten Sidoarjo ke Pemerintah Kota Salatiga

Di penghujung bulan Juli 2020, Dinas Pangan Pemerintah Kota Salatiga mendapat kesempatan untuk menerima kunjungan Kerja Komisi B DPRD Kabupaten Sidoarjo.  Kunjungan Kerja Komisi B tersebut terkait Sistem penguatan Kebutuhan Ketahanan Pangan dimasa pandemi. Peserta kunjungan kerja tersebut terdiri dari 10 (sepuluh) orang Pimpinan/Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Sidoarjo dan 2 (dua) orang dari Sekretariat DPRD Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur .

Diterima oleh Assisten Perekonomian dan Pembangunan, Ir.Mustain,M.Si dan Plt Kepala Dinas Pangan  Dra.Sri Satuti, MM di Ruang Kalitaman Gedung Setda Pemerintah Kota Salatiga. Dalam paparanya, Dra Sri Satuti, MM menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Salatiga dalam mewujudkan Ketahanan Pangan memiliki program -program Unggulan selama pandemic covid-19 ini, diantaranya :

  1. Pemberian Bantuan Sembako sebanyak 3x untuk Kelompok Binaan Dinas Pangan Kota Salatiga yang terdampak Covid-19;
  2. Menyediakan Cadangan Pangan berupa Gabah Kering Giling untuk Masyarakat Kota Salatiga sebesar 76,2 ton;
  3. Pemberian bantuan Tidak Terduga (BTT) untuk masyarakat yang terdampak Covid-19 berupa pemberian benih tanaman pangan. Benih tanaman pangan yang diberikan berupa sawi, bayam, kangkung, kacang panjang, cabai. Pemberian bantuan tersebut juga disertai pemberian pupuk organic padat, pupuk organic cair, polybag plastic tanam dan tresemai.

Adapun perwakilan dari Komisi B DPRD Kabupaten Sidoarjo dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah  Kabupaten Sidoarjo Bambang Pujianto. disampaikan Bambang bahwa Kabupaten Sidoarjo memerlukan strategi kegiatan dalam mewujudkan Ketahanan Pangan di masa Pandemi. Sehingga, masyarakata memerlukan stimulant kegiatan agar mampu berdikari dan menopang kebutuhan pangan terutama sayur mayur yang diperoleh dari pekaranganya sendir. ( Nish)

FGD KETAHANAN PANGAN POLRES KOTA SALATIGA – DINAS PANGAN KOTA SALATIGA

Pembukaan FGD Ketahanan Pangan Kemitraan Polres Salatiga Dengan Dinas Pangan Kota Salatiga
Peserta FGD Ketahanan Pangan Kemitraan Polres Salatiga Dengan Dinas Pangan Kota Salatiga

Selasa, 28 Juli 2020 bertempat di AULA POLRES Kota Salatiga diadakan kegiatan FGD ( Focus Group on Discussion ) KETAHANAN PANGAN dengan Tema Peran Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat dalam mewujudkan Ketahanan Pangan memasuki Masa Adaptasi Kebiasaan Baru di Kota Salatiga.

Acara yang diselenggarakan oleh POLRES Kota Salatiga itu merupakan salah satu kebijakan POLRI dalam merangkul semua lapisan masyarakat agar berperan serta dalam mewujudkan Ketahanan Pangan di Kota Salatiga. Hadir sebagai peserta adalah Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Ketua RAPI, Ketua FKM, Semkom Mitra POLRI dan beberapa Kepala Seksi Keamanan Ketertiban Kelurahan di Kota Salatiga.

Acarara tersebut dibuka oleh KAPOLRES Kota Salatiga, AKBP Rahmad Hidayat, SE,MM dan Hadir sebagai Narasumber tunggal, Plt.Kepala Dinas Pangan Kota Salatiga, Dra.Sri Satuti,MM. Untuk mewujudkan ketahanan pangan, POLRES Salatiga telah membuat bebereapa kegiatan dalam rangka persiapan ketahanan pangan antara laian penyediaan kolam ikan untuk masyarakat, menyediakan lahan disekitar kantor untuk ditanami aneka sayur mayuyr dan umbi-umbian. Dalam paparannya, Sri Satuti menyampaikan bahwa Aspek Ketahanan Pangan di Kota Salatiga ditopang oleh Program Cadangan Pangan Daerah, Program Pangan Lestari, Diversifikasi Pangan Lokal dan Toko Tani  Indonesia.

Kegiatan yang sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam masa pandemi ini adalah kegiatan Program Pangan Lestari (P2L) atau yang bernama Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Hasil yang diperoleh pada program ini adalah hasil panen yang berlimpah, sehingga mampu menekan kebutuhan keluarga dan di beberapa kelompok  hasil panen tersebut mampu dijual untuk mendapat pendapatan tambahan bagi anggota KRPL. Kunci dari keberhasilan kegiatan P2L adalah kebun bibit yang terus dikembangkan, sehingga kelompok tidak terus menerus tergantung dari bantuan pemerintah, sehingga keberadaan P2L bisa terus berkembang.

Program lain yang turut serta mendukung ketahanan pangan di Lingkungan Dinas Pangan adalah Kegiatan OPAL ( Obor Pangan Lestari). OPAL ini adalah kegiatan memberdayakan lahan di perkantoran untuk ditanami sumber protein, vitamin, mineral dan karbohidrat.  Menurut Satuti, bertanam selain sehat dan menyenangkan juga mampu menghasilkan karena ketersediaan pangan berupa sayur mayur yang dipetik dari pekarangan.

Adanya pandemic ini bisa diambil hikmahnya, bahwa kita harus mengupayakan untuk mewujudkan ketahanan pangan, melalui langkah kecil yang bisa kita lakukan secara terus menerus. ( Nish)

MANFAATKAN SUMBER PANGAN LOKAL DISEKITAR KITA Murah, Mudah dan Bergizi Tinggi

Hippocrates, Bapak Kedokteran Dunia berpesan kepada sesama koleganya “Leave your drugs in the chemists pot if you can heal the patient with food”  . menurut Bapak Kedokteran Dunia, Makanan yang baik bisa berfungsi sebagai obat bagi tubuh kita. Sisi fungsional dari makanan menjadi pertimbangan utama agar ia dapat  menunjang hidup sehat. Komponen antioksidan dan senyawa bioaktif lainnya dalam makanan fungsional diyakini dapat mencegah gangguan kesehatan tubuh. Zat ini menjadi senjata pemusnah yang siap pasang badan untuk memberi perlindungan dari gempuran radikal bebas. Radikal bebas ini berbahaya karena akan menyerang dan merusak molekul makro komponen sel, yaitu lemak, protein dan DNA (deoxyribo nucleic acid) dan  kemudian menjalar pada kerusakan jaringan yang mempercepat proses penurunan daya tahan tubuh dan penuaan dini.

Penurunan daya tahan tubuh akan memudahkan penyakit degenerative seperti kanker, jantung coroner, osteoporosis dan diabetis hinggap dalam tubuh. Fenomena ini didorong kehadiran radikal bebas yang bersumber dari  polusi udara dan pola makan yang salah, seperti terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak dan kolesterol.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah pangan lokal mampu mengatasi penyakit degenerative  ?, meski belum  ada hasil peneitian yang menjadi rujukan ilmiah untuk membuktikan hal itu, sejak lama sudah  diketahui jika pangan lokal dan makanan traditional memiliki kandungan senyawa bioaktif dan beragam antioksidan yang mampu mendepak peradanga sel. Klaim khasiat tersebut lebih banyak diperoleh dari bukti empiris ketimbang uji klinis yang berstandard international.    

Sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 2020 tentang upaya menjaga ketahanan pangan nasional pada saat Corona Virus Diseases 2019 dan surat Menteri Pertanian Nomor 95/KKN.220/M/6/2020 tanggal 5 Juni 2020 perihal himbauan untuk mengkonsumsi pangan lokal maka Dinas Pangan Kota Salatiga Mengeluarkan Surat Edaran Nomor      Gerakan Sehari Tanpa Nasi. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Masyarakat agar mengkonsumsi menu makanan/pangan lokal non beras minimal 1 hari dalam 1 bulan;
  2. Memanfaatkan menu makanan/pangan lokal non beras produksi dalam negeri dan buah-buahan lokal Indonesia pada saat rapat dan pertemuan yang diselenggarakan di Kota Salatiga
  3. Mensosialisasikan secara massif terhadap Surat Edaran tersebut, sehingga berdampak terhadap perubahan kebiasaan dan perubahan pola pangan di masyarakat Kota Salatiga.

Diversifikasi produk pangan lokal tidak hanya beras akan tetapi  Jagung, Ubi Jalar/ubi manis, Sukun, Sagu, Ubi Kayu, Ganyong, Garut, Talas, suweg dan Sorghum. Sehari tanpa nasi akan menambah keragaman gizi . selain itu, olahan pangan lokal mampu mengangkat cita rasa dan nilai jual produk pangan lokal sehingga semakin digemari masyarakat.

Olahan pangan lokal yang bisa di jadikan alternative adalah Tumpeng Jagung, Mie Jagung, Brownies kukus talas, Nasi ubi kayu, Nasi Talas, Bakwan Jagung, Roti Sorghum, Mie Sukun, Kremes Ubi Jalar.

Jika pangan lokal ini diolah menjadi aneka pangan yang kreatif dan menarik serta  bercita rasa tinggi, maka akan membuka peluang bisnis yang menjanjikan dan mengangkat kekayaan hayati pangan lokal. Sehingga, masih sangat potensial untuk dikembangkan menjadi aneka menu menarik saat sajian rapat / hajatan / kegiatan pertemuan.

Jadi, Jangan GENGSI untuk mengkonsumsi PANGAN LOKAL !!! (Niesh)

Monitoring Kelompok P2L (Program Pangan Lestari) Kota Salatiga

PROGRAM PANGAN LESTARI (P2L):

Sumber Pangan Kami Berasal dari Pekarangan Kami

Ketahanan Pangan yang bersumber dari Rumah Tangga

Berdasarkan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, mengamanatkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sesuai dengan potensi kearifan lokal guna mewujudkan hidup sehat, aktif, dan produktif. Upaya penganekaragaman pangan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 26 pada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi, salah satunya dapat melalui optimalisasi pemanfaatan lahan.

Menindak lanjuti arahan Presiden RI pada acara konferensi Dewan Ketahanan Pangan pada bulan Oktober 2010 di Jakarta tentang Ketahanan dan kemandirian pangan nasional harus dimulai dari rumah tangga. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau”. Berdasar definisi tersebut, pemantapan ketahanan pangan dapat dilakukan melalui pemantapan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan

Dari segi harfiah atau makna Bahasa, yang dimaksud pekarangan adalah sebidang tanah yang berada di sekitar rumah yang digunakan untuk tempat bermain anak-anak, untuk acara keluarga dan acara keakraban, serta ditanami dengan berbagai jenis tumbuhan dan tanaman serta tempat pemeliharaan berbagai jernis ternak dan ikan.

Sedangkan secara maknawi pekarangan adalah sebidang tanah di sekitar rumah yang umumnya dikelilingi pagar, bila dimanfaatkan secara maksimal dapat berperan sebagai pemberi keindahan dan keasrian, sekaligus apotik hidup dan warung hidup yang memudahkan kita memperoleh obat alami dan bumbu dapur yang masih segar. Pemanfaatan tanah pekarangan dapat dilakukan dengan budidaya sistem vertikultur, potisasi, tabulampot, serta diversifikasi tanaman pangan.

Kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Kota Salatiga dalam upaya memperluas penerima manfaat dan pemanfaatan lahan, pada tahun 2020 berubah nama menjadi Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Kegiatan P2L merupakan upaya untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan pangan bagi rumah tangga sesuai dengan kebutuhan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman serta berorientasi pasar untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui pemanfaatan lahan pekarangan, lahan tidur dan lahan kosong yang tidak produktif.

Kegiatan P2L di Kota Salatiga pada Tahun 2020, dibedakan menjadi kelompok penumbuhan dan kelompok Pengembangan. Kegiatan P2L merupakan kegiatan pemberdayaan kelompok masyarakat yang meliputi kegiatan budidaya berbagai jenis tanaman melalui kegiatan kebun bibit, demplot, pertanaman, dan pasca panen serta pemasaran.

Pelaksanaan P2L di Kota Salatiga di Tahun 2020, terdiri dari 2 kelompok ; P2L Pengembangan dan P2L Penumbuhan.   Kelompok pengembangan terdapat di KWT Mekar Lestari dan KWT Dahlia. Adapun kelompok Pengembangan terdiri dari 4 kelompok, yaitu KWT Amanah Kelurahan Kutowinangun Lor, Tingkir ; KWT Sukasari Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo; KWT Sembodro Kelurahan Mangunsari Sidomukti, KWT Sri Rejeki Kelurahan Bugel Kecamatan Sidorejo.

Ditetapkannya COVID-19 sebagai pandemi, akan memberikan multiplayer effect bagi semua tatanan kehidupan. Mulai dari sektor kesehatan, ekonomi, financial, kelancaran distribusi bahan pangan hingga perubahan kehidupan sosial masyarakat. Tidak hanya dikota besar, di kota kecil nan sejuk seperti Kota Salatiga, juga terkena dampaknya.  Kebutuhan mendasar dan mendesak yang paling  terasa adalah ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat, terlebih ketika bertepatan pada bulan Ramadhan kemarin. Ketersediaan bahan pangan ini adalah nafas panjang yang jika tidak diseriusi, akan memunculkan permasalahan baru di masyarakat.

Ketersediaan bahan pangan sangat mungkin dimunculkan dari halaman rumah kita. jika semua masyarakat menyadari hal tersebut, kebutuhan pangan kita tidak sepenuhnya tergantung dari pasar. Salah satu hal yang dapat diapresiasi adalah kegiatan KWT Mekar Lestari, Kelurahan Randuacir Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. Melalui Kelompok P2L (Program Pangan Lestari) yang berdiri tahun 2019 dengan mendapatkan Bantuan dari APBN 2019 melalui Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian Republik Indonesia, sangat merasakan dampak yang signifikan di era pandemic COVID-19 sekarang. Ibu-ibu anggota kelompok masih tetap beraktivitas dan menghasilkan aneka sayuran sehingga mereka dapat menghemat belanja untuk kebutuhan dapur setiap hari. hasil panen yang bisa dipetik, mampu mencukupi kebutuhan anggota keluarganya, dan tidak jarang diberikan kepada keluarga yang bukan anggota kelompok, bahkan suda ada kelompok yang mampu menjual hasil tanaman di pekarangan  sehingga bisa menambah pendapatan keluarga. Komoditas yang spesifik di KWT Mekar Lestari, Randuacir Salatiga  yaitu tanaman ADAS, yang sangat cocok untuk diolah menjadi bobor, urap atau gudangan, rasanya seperti mint segar dan menghangatkan tubuh, sehingga imunitas tubuh juga meningkat. Daun adas juga sangat bagus untuk membantu meningkatan produksi ASI, sehingga program ASI eksklusif bisa tetap jalan. Jadi Jangan takut turun gengsi karena mengkonsumsi produk lokal.  

Berlangsungnya pandemi COVID19 yang menuntut masyarakat untuk stay at home dan menjaga jarak aktivitas. Bertanam, selain sehat dan menyenangkan juga mampu menghasilkan karena ketersediaan pangan berupa sayur-mayur yang dipetik dari pekarangan. Sejak awal masa pandemi hingga sekarang (3 bulan) sudah banyak masyarakat yang mengajukan permohonan bantuan stimulan bibit sayur ke Dinas Pangan Kota Salatiga. Kelompok/masyarakat yang mengajukan permohonan ini pada umumnya sudah memiliki cikal – bakal kelompok sehingga memiliki kemampuan dan kemauan untuk mengembangkan kegiatan menanam sayur.

Kunci Keberhasilan Program

Kunci keberhasilan dalam keberlangsungan P2L adalah dengan mengembangkan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture), ada 3 (tiga) komponen keberhasilannya sebagai berikut :

  1. Tersedianya kebun bibit

Meliputi kegiatan

  • pembangunan rumah bibit;
  • pengadaan aneka benih tanaman sayuran, buah, dan atau aneka umbi;
  • pengadaan peralatan dan media tanam, seperti polybag, pot, rak, kompos dan pupuk.
  • Demplot
  • Pengadaan aneka bibit tanaman sayuran, buah, dana tau aneka umbi;
  • Pengadaan peralatan dan media tanam
  • Penyediaan sarana air sederhana (pompa, penampung air, instalasi air,dll)
  • Pertanaman

Pengadaan peralatan dan media tanam seperti polybag, pot, rak, kompos, pupuk, dan atau kebutuhan yang lain dalam pertanaman pekarangan anggota.

  • Pasca Panen dan Pemasaran

Sarana dan prasarana pengemasan / fresh handling product

Program Pangan Lestari memberikan banyak manfaat bagi pelakunya seperti :

  1. Kemudahan mengakses pangan dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Banyak ibu rumah tangga yang selama ini membeli kebutuhan pangan keluarganya ke pasar dan harus mengeluarkan biaya transport atau menunggu tukang sayur keliling. Namun setelah ibu rumah tangga memanfaatkan pekarangannya justru yang terjadi adalah bahwa, mereka tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan untuk keluarga dan menghemat biaya transport kepasar tetapi justru mereka bisa menjual hasil pekarangannya kepada tukang sayur langganan mereka untuk dijual di daerah lain.
  2. Mendukung pemenuhan gizi anggota keluarga dengan baik. Kecenderungan masyarakat yang belum memperhatikan kecukupan dan keseimbangan gizi keluarga yang salah satu faktor penyebab adalah karena keterbatasan keuangan untuk membeli bahan pangan yang bergizi, sudah dapat diatasi dengan hasil pangan dari pekarangan yang telah memenuhi kecukupan gizi.
  3. Pengehematan pengeluaran rumah tangga untuk pembelian pangan karena sudah dapat dipenuhi dari pekarangan sendiri. Kebutuhan bahan pangan sehari-hari seperti cabe, tomat, sayuran, dan bumbu dapur bahkan ikan dana yam serta telur sudah dapat dipenuhi dari pekarangan sendiri, sehingga tidak harus membeli lagi dan dananya dapat dihemat untuk keperluan rumah tangga lainnya.
  4. Penambahan pendapatan rumah tangga apabila produksi masih berlebih setelah kebutuhan keluarga terpenuhi. Kenyataan membuktikan bahwa apabila potensi pekarangan dapat dioptimalkan pemanfaatannya akan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi rumah tangga.
  5. Membantu pelestarian lingkungan karena

 Komoditas lain yang dihasilkan selain adalah cabe rawit, sawi bakso, sayur kangkung, sayur bayam, cabe keriting, kacang panjang, terong, buncis, tomat, sawi sendok, pare, seledri, jeruk dan kelor. Dengan banyaknya manfaat yang bisa diambil dari kegiatan P2L ini sangat diharapkan mampu diduplikasi oleh anggota pengajian / kelompok masyarakat/  anggota dasa wisma dan PKK yang ada di Kota Salatiga. 

Tetap semangat untuk para Ibu Pejuang Ketahanan Pangan Keluarga, senantiasa bersyukur, tetap sehat dan  jangan lupa bahagia (Niesh)

TETAP PRIMA DI MASA PANDEMI MELANDA

https://www.sarihusada.co.id/Nutrisi-Untuk-Bangsa/Kesehatan/Umum/Manfaat-mengonsumsi-sayur-dan-buah-secara-rutin

Isi Piringku merupakan salah satu panduan makan sehat yang bisa digunakan sebagai acuan sajian sekali makan. Panduan tersebut meliputi, dalam satu piring makan terdapat lauk-pauk, buah-buahan, sayuran, dan makanan pokok yang bisa dikonsumsi masyarakat yang ingin menjaga berat badan yang sehat.
“Lauk bisa bikin sup, soto, pepes, garang asem, pesmol, pangek, atau bakaran (menggunakan bungkus daun). Untuk karbo, pilihlah yang bukan rafinasi, misalnya nasi putih, tepung-tepungan,”
Sementara untuk proporsi sayur, Tan menyarankan agar memilih menu lalapan, bening bayam atau pucuk labu, capcay kuah, sayur asam, karedok, asinan betawi, dan lainnya. Tidak ketinggalan, disajikan juga buah-buahan dalam porsi makanan sehat.

“Buah dimakan dalam bentuk aslinya, buah potong. Bukan dalam bentuk jus, karena jumlah fitokimia yang ditemukan dalam jus terlalu rendah untuk memiliki efek yang menguntungkan bagi tubuh,”