PENGEMBANGAN PROGRAM OPAL SELAMA PANDEMI COVID19

Dinas Pangan Kota Salatiga terus berupaya mewujudkan ketahanan pangan nasional dengan pemanfaatan lahan pekarangan ini dijadikan sebagai sumber pangan dan gizi keluarga.

Menurut  Badan Ketahanan (BKP) Kementrian Pertanian melaksanakan Obor Pangan Lestari (OPAL) Mulai Tahun 2019. Melalui program OPAL, BKP RI meminta seluruh kantor lingkup Kementrian Pertanian dan Dinas lingkup pertanian Provinsi/Kabupaten/Kota serta UPT Vertikal memanfaatkan area perkantoran dengan menanam berbagai komoditas sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral.

OPAL di Dinas Pangan Kota Salatiga, pada awal berdirinya Tahun 2019, dengan mendapatkan bantuan dana APBN  berupa pembangunan 1 unit OPAL, aneka bibit sayur dan pupuk bokasi (pupuk padat). Tujuan jangka pendek pelaksanaan OPAL adalah untuk pemanfaatan lahan perkantoran sebagai penyedia pangan dan sebagai percontohan untuk masyarakat dalam memanfaatkan pekarangan.

Sedangkan jangka panjang untuk meningkatkan penyediaan sumber pangan keluarga yang Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA), meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat; meningkatkan pendapatan rumah tangga; meningkatkan akses pangan keluarga; konservasi sumberdaya genetic lokal; dan mengurangi jejak karbon serta emisi gas pencemar udara.

Pada tahun 2020, keberadaan OPAL di Dinas Pangan Kota Salatiga lebih dimaksimalkan peranananya.  Terutama di saat pandemi  COVID19 dan pembatasan aktivitas-aktivitas karena Refocussing Anggaran OPD. Dibawah Komanda Sekretaris Dinas Pangan, pegawai Dinas Pangan mengisi aktivitas hariannya dengan mengoptimalkan OPAL sebagai sarana bercocok tanam dengan mengisinya dengan beraneka sayur dan buah. Sayur yang menjadi komoditas OPAL adalah sawi, bayam, timun, kangkung, tomat dan pare. Adapun untuk komoditi buah-buahan adalah pepaya, jeruk, jambu air, jambu biji dan makisa.

Kegiatan mengoptimalkan OPAL Dinas Pangan pada Tahun 2020, dimulai dengan penyiapan media tanam, penyiapan pembenihan didalam tray, penyiapan polybag dan perawatan. Semua aktivitas untuk mengoptimalkan keberadaan OPAL, didukung oleh semua pegawai Dinas Pangan Kota Salatiga, sebagai bagian dari menunjang ketahanan pangan dan sarana percontohan bagi masyarakat. Tetap Sehat, Tetap Semangat !!!

Pelatihan Hidroponik sebagai upaya memaksimalkan Lahan Pekarangan Sempit diwilayah Perkotaan

Hidroponik merupakan salah satu teknik budidaya tanaman yang saat ini banyak digandrungi oleh masyarakat modern. Teknik tanam ini menggunakan prinsip kerja menanam dengan media selain tanah dan mencukupi nutrisi untuk tanaman dengan menggunakan larutan nutrisi AB Mix yang dialirkan ke akar tanaman.
Beberapa tanaman seperti sayur-sayuran, buah-buahan dan juga tanaman hias sangat cocok bila dijadikan sebagai tanaman yang dibudidayakan dengan hidroponik. Budidaya menggunakan teknik hidroponik memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan menanam secara konvensional yang menggunakan media tanah untuk budidaya.
Berikut ini tiga keuntungan dari hidroponik yang bisa jadi bahan pertimbanganmu untuk lebih memilih teknik budidaya ini dibandingkan konvensional.

1. Hidroponik tidak mengenal musim dan tempat
Adanya anomali cuaca saat ini menyebabkan kita sulit untuk memprediksi kondisi cuaca beberapa hari ke depan. Terkadang kita sering menjumpai waktu saat seharusnya diguyur hujan justru kering tanpa air hujan yang turun sedikitpun. Hal ini menyebabkan kita akan sulit untuk menentukkan waktu tanam yang tepat bagi tanaman terutama untuk sayuran.
Bukan hanya permasalahan kondisi cuaca yang ada, tapi di era modern ini lahan persawahan juga semakin berkurang akibat pengalihan fungsi lahan persawahan menjadi tempat tinggal maupun gedung-gedung perkantoran. Permasalahan ini akan sangat sering kita jumpai di daerah perkotaan yang lebih banyak didominasi oleh gedung-gedung pencakar langit. Hal ini tentu menjadi permasalahan yang serius mengingat semakin sempitnya lahan yang dapat ditanami.
Bagi kamu yang ingin berkebun, tapi terhalang dua kondisi di atas, hidroponik bisa menjadi solusi terbaik. Hidroponik dapat dipasang di atap maupun di dalam rumah yang sempit sekalipun karena instalasi yang dipasang tidak membutuhkan tempat yang luas. Kunci bertanam dengan hidroponik ini terdapat pada pemenuhan nutrisi dan penyinaran matahari yang cukup bagi tanaman.
Budidaya dengan teknik hidroponik ini tidak membutuhkan tanah sama sekali namun mengganti fungsi tanah yang ada dengan larutan nutrisi AB Mix untuk memenuhi unsur hara yang dibutuhkan. Kamu dapat memodifikasi instalasi yang ada dengan menggunakan screen houseatau green house sehingga bisa digunakan di segala kondisi cuaca.
2. Lebih bersih dan bebas dari OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)
Penggunaan screen house atau green house ini selain untuk melindungi dari sinar matahari berlebih dan hujan yang turun di luar musim juga bisa digunakan sebagai penghalang OPT masuk dan merusak tanaman.
Bukan hanya itu, hidroponik ini tidak menggunakan tanah sebagai media tanam sehingga kemungkinan tanaman terkena serangan organisme dalam tanah akan semakin kecil. Penggunaan media tanam selain tanah seperti arang sekam, kerikil dan juga rockwool ini akan jauh lebih bersih bila dibandingkan dengan teknik konvensional.
3. Kualitas lebih baik sehingga harga jual lebih tinggi
Semakin kecilnya kemungkinan serangan OPT baik dari bahan tanam maupun lingkungan dengan penggunaan hidroponik ini maka tanaman yang dihasilkan menjadi lebih sehat dan kualitas lebih baik dibandingkan dengan menanam menggunakan teknik konvensional. Kualitas yang baik ini selain baik untuk kesehatan juga mampu meningkatkan harga jual dari tanaman yang dibudidayakan.
Bila dibandingkan dengan tanaman yang dibudidayakan secara konvensional, tanaman hidroponik ini bisa dijual dengan harga 2-3 kali lipat dari tanaman konvensional, sehingga keuntungan yang didapat akan semakin besar.
Itulah tiga keuntungan utama yang bisa kamu dapatkan dengan menanam menggunakan teknik hidroponik. Yuk ciptakan kebun sayur segar rumahan dan tingkatkan peluang bisnis dengan hidroponik.
Praktisi Hidroponik – Bapak Suratman_ sedang memberikan paparan sekaligus pendampingan pemasangan instalasi Hidroponik bagi peserta Hidroponik Dinas Pangan Kota Salatiga, 21 – 22 Oktober 2020
pemasangan Instalasi Hidroponik oleh Petugas Dinas Pangan Kota Salatiga

Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kota Salatiga Tahun 2020

Narasumber Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan : Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah ( Ir.Agus Wariyanto, S.IP,MM, Kapolres Salatiga : AKBP Rahmad Hidayat,SS, Walikota Salatiga : Yuliyanto, SE,MM, Wakil Walikota Salatiga : Muh.Haris,SS,M.Si dan Kepala Dinas Pangan : Roch Hadi,SH,MM
Walikota Salatiga sedang memaparkan strategi Pemerintah Kota Salatiga dalam Upaya Meningkatkan Ketahanan Pangan
Narasumber, Peserta dan Tamu Undangan dalam sesi pengambilan gambar di Hall Oemah Kembang, Ngablak Magelang pada Rakord Dewan Ketahanan Pangan Tanggal 7 Oktober 2020

Stok Pangan Stabil, Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat !!! :::REFLEKSI PERINGATAN HARI PANGAN SEDUNIA KE 40::::

Kepala Dinas Pangan Kota Salatiga – Roch Hadi,SH,MM

Hari Pangan Sedunia (HPS) merupakan momentum International yang jatuh pada tanggal 16 Oktober dan diperingati setiap tahun oleh 197 negara anggota Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) termasuk Indonesia khususnya Provinsi Jawa Tengah yang selalu diselenggarakan secara marak. Berbeda dengan tahun sebelumnya, peringatan HPS ke 40 Tahun ini ditiadakan karena masih dalam suasana pandemi Covid-19.

Pandemi ini menyebabkan gangguan sistem logistik global yang berdampak pada persoalan akses pangan.  Indonesia sebagai negara berkembang dan beberapa negara lain yang memiliki tingkat ekonomi serupa atau dibawah Indonesia, masalah akses pangan yang timbul umumnya dipengaruhi penghasilan masyarakat yang tidak memadai, bahkan sekedar untuk membeli pangan pokok. Banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi covid-19, menyumbang andil pada menurunnya ketahanan pangan sampai masyarakat sehingga harus bergantung kepada bantuan Pemerintah.

Ketahanan Pangan menurut World Food Summit (1966) menyebutkan bahwa ketahanan pangan terjadi saat semua orang, kapan saja, memiliki akses fisik dan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi makanan yang aman dan bergizi dengan cukup untuk kehidupan yang sehat dan aktif. Hal ini dapat diidentifikasi dari empat indikator, yaitu ketersediaan pangan secara fisik (physical availability), akses secara ekonomi dan fisik untuk mendapatkan bahan pangan (economic and physical availability), pemanfaatan bahan pangan (food utilisation), dan stabilitas dari ketiga indikator tersebut.

Jika dilihat dari indikator tersebut, untuk menjaga ketahanan pangan, tidak cukup jika hanya menitikberatkan pada masyarakat atau pemerintah. Perlu ada sinergi dan usaha mulai dari tingkat individu, rumah tangga, masyarakat, sektor privat (perusahaan), dan pemerintahan sebagai pemangku kebijakan.

Mengutip dari pendapat dosen Rekayasa Pertanian ITB, Ramadhani Eka Putra,Ph.D, ia menjelaskan bahwa “pada 2050 penduduk dunia akan bertambah 2 miliar, maka dari itu produksi pangan harus ditingkatkan sebesar 70%. Dalam peningkatan pangan ini tentu saja akan dihadapkan dengan constraint. “Menurut prediksi United Nations, pada 2050, maksimal hanya terdapat 20% daerah yang bisa ditanami sehingga akan menimbulkan krisis pangan atau mungkin sebenarnya bahan pangan itu ada tetapi akses untuk mendapatkanya menjadi sulit”. Prediksi tersebut juga menyertakan variabel pandemi didalamnya. Seperti yang kita ketahui, pandemi Covid-19 membuat segalanya berubah tanpa ada persiapan apapun. Seperti yang terjadi di Negara Ukraina sebagai salah satu penghasil gandum terbesar di dunia saat menghadapi Covid-19. Warga negara Ukraina memiliki ketergantungan akan makanan berbahan dasar gandum, namun saat pandemi berlangsung para petani tidak ingin menjual gandum yang telah diproduksi. Mereka menyimpan gandum tersebut untuk dikonsumsi sendiri. Sehinga, gandum menjadi barang langka dan masyarakat nonpetani gandum mengalami kesulitan untuk mendapatkanya. Masih menurut Rama –panggilan akrabnya- agar Indonesia tidak mengalami hal tersebut,maka ada beberapa solusi untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia

  1. Belajar sains dan teknologi

Secara sederhana,  pertanian merupakan proses merubah energi dari matahari menjadi senyawa karbon yang dapat digunakan sebagai sumber energi. Dengan belajar sains dan teknologi memungkinkan untuk membangun model matematika dan algoritma sehingga produksi pertanian menjadi terotomatisasi dan maksimal. Dengan begitu diharapkan kebutuhan pangan menjadi terpenuhi dan meminimalisir kelangkaan pangan.

  • Home Gardens

Sebagai sistem pertanian lokal khas Indonesia yang dapat ditemukan pada sebagian besar daerah rural di Indonesia. Konsep pertanian ini dengan menanam tanaman yang bisa dikonsumsi di pekarangan rumah sehingga tiap rumah bisa mengakomodasi kebutuhan pangannya sendiri.

  • Hyper Urban Farming

Dilakukan di daerah urban dengan kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi sangat tinggi yang menggabungkan inovasi, konsep permakultur dan micro-scale bioscience. Namun sistem pertanian ini belum banyak dilakukan di Indonesia Karena keterbatasan teknologi.

  • Hydroponics and Aquaponics

Sistem pertanian yang menghilangkan unsur tanah di dalamya sudah banyak dilakukan di Indonesia namun diversitas produknya masih rendah.

  • Forest Gardening

Merupakan sistem produksi makanan dan sistem manajemen lahan yang meniru ekosistem hutan. Pohon dan tumbuhan liar diganti dengan pohon buah, semak, herba dan sayuran.

Dari kelima solusi tersebut, yang bisa dilakukan warga negara Indonesia untuk menjaga ketahanan pangan secara mandiri yaitu home gardening dan hidroponik atau aquaponics. Lahan yang ada sebaiknya ditanam pohon yang bisa dikonsumsi dan bermanfaat langsung bagi manusia daripada tanaman hias. Misalnya, di pekarangan rumah tanamlah pohon mangga, jambu, rambutan dan nangka.

Dinas Pangan Kota Salatiga di masa pandemi sudah melaksanakan beberapa program dan kegiatan untuk menjaga ketahanan pangan : Pelatihan Hidroponik bagi Pokmas / KWT; Pembagian bibit sayur untuk optimalisasi pekarangan, Program Desa Mandiri Pangan dengan pemberian ternak dan bibit sayur, Percontohan Budikdamber (Budidaya Ikan dalam emeber) bagi masyarakat, Pelatihan Manajemen Lumbung Pangan Desa serta serta pengisian lumbung dengan Gabah Kering Giling di Lumpung Pangan Tingkat Kota dan Lumbung Pangan Masyarakat di Kecamatan Tingkir, Sidomukti dan Sidorejo.

Pada akhirnya, Ketahanan Pangan merupakan kebutuhan bersama untuk mewujudkan Kedaulatan Pangan. Oleh karenya, dimomentum Hari Pangan Sedunia ke 40 tahun 2020 ini, Dinas Pangan Kota Salatiga sebagai Dinas yang membidangi Ketahanan Pangan di Kota Salatiga mendorong semua pihak untuk terlibat secara aktif dalam mewujudkan Ketahanan Pangan dengan mengoptimalkan pekarangan  dan potensi pangan lokal yang ada disekitar kita. (en-u).

Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kota Salatiga Tahun 2020

Berbicara masalah ketahanan pangan, tidak cukup hanya masalah produksi, tetapi produksi tersebut harus bisa didistribusikan ke seluruh pelosok tanah air agar masyarakat dapat mengakses pangan dan pangan yang dikonsumsi harus beragam, bergizi, seimbang, aman dan halal. Melihat posisinya yang sedemikian kompleks menunjukkan secara jelas bahwa pembangunan ketahanan pangan tidak dibebankan hanya kepada satu institusi, tetapi melibatkan multi sektor dan disiplin ilmu pengetahuan. Kerjasama ini sangat penting untuk membangun ketahanan pangan melalui tiga sub sistemnya : ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan. Sehingga diperlukan suatu wadah untuk melakukan koordinasi tersebut.

Wadah koordinasi yang dimaksud adalah Dewan Ketahanan Pangan (DKP), lembaga non struktural yang tertuang dalam Perpres No.83 Tahun 2006, dan di tingkat Daerah, langsung diketuai oleh Wali kota. Koordinasi ini diarahkan untuk menghimpun kekuatan bersama berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) yang memiliki komitmen tinggi pada isu ketahanan pangan, untuk menciptakan kekuatan lebih besar dalam mencapai tujuan bersama yaitu mengikis kelaparan dan kemiskinan. Selain itu juga untuk menjembatani implementasi pelaksanaan program Ketahanan Pangan dan kebijakan-kebijakan pendukung di tingkat Kabupaten/kota.

MENJAGA STABILITAS PASOKAN, CADANGAN DAN HARGA PANGAN MELALUI SISLOGDA dan DIVERSIFIKASI PANGAN DI MASA PANDEMI

Stabilitas harga pangan mempunyai peran strategis dalam memantapkan ketahanan pangan, ketahanan ekonomi dan ketahanan/ stabilitas politik nasional. Pengalaman tahun 1996 dan tahun 1998 menunjukkan bahwa goncangan politik dapat berubah menjadi krisis politik, hal ini terjadi karena faktor kenaikan harga pangan yang melonjak dalam waktu dekat. Stabilitas harga pangan kembali diuji saat masyarakat melakukan “panic buying ” akibat pandemi Covid-19, sehingga beberapa komoditi sempat mengalami kenaikan harga. Atau disaat lain, ketika ketersediaan dan distribusi pangan tidak mampu mencukupi kebutuhan akibat daya serap panen belum optimal / pasokan tidak stabil saat panen raya mengakibatkan Fluktuasi Pasokan dan Harga antar waktu dan antar wilayah tidak stabil. Disinilah pentingnya kebijakan SISLOGDA untuk mewujudkan Stabilitas Pangan (Pasokan  dan Harga)

Tujuan SISLOGDA sebagai sarana memotong rantai distribusi, memberlakukan harga wajar untuk produsen dan konsumen serta meningkatkan kesejahteraan petani (NTP = Nilai Tukar Petani).

Di Kota Salatiga, sudah ada beberapa langkah yang ditempuh untuk Mewujdkan SISLOGDA , berupa langkah Jangka Pendek yaitu :  Perbaikan atap lantai jemur Lumbung Pangan Prima Agung di Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo dengan lantai jemur seluas 700m² dengan 1 unit RMU – Rice Milling Unit. Keberadaan lumbung pangan adalah salah satu infrastruktur pendukung untuk menjamin cadangan pangan Pemerintah dan masyarakat. Kegiatan lain adalah pemantauan secara harian dan mingguan harga pangan strategis (beras,jagung, gula, kedelai dan daging) agar tersedia data yang konsisten serta sebaran harga pangan strategis di tingkat produsen dan di tingkat konsumen yang dapat dipercaya. Pengelolaan pasokan pangan dan cadangan penyangga untuk menjaga stabilitas harga pangan agar tersedia pasokan pangan, terutama pada saat paceklik, gagal panen dan bencana alam dalam bentuk Gabah Kering Giling. Tahun 2020 ini, Pemerintah Kota Salatiga telah mengeluarkan kebijakan dengan merefocussing anggaran sebesar Rp 400.000.000,- (Empat ratus juta rupiah) untuk memperbanyak cadangan pangan sebesar 49 ton GKG yang dititipkan di Gapoktan Prima Agung; Kegiatan lain adalah Gelar Pangan Murah dan Toko Tani Indonesia yang diselenggarakan 2x dalam setahun.

Dimasa pandemi ini, Menteri Pertanian RI mengeluarkan surat nomor 95/KKN.220/M/6/2020 Tanggal 5 Juni 2020 perihal himbauan untuk mengkonsumsi pangan lokal dan ditindaklanjuti Surat Edaran Wali kota Salatiga untuk mengkonsumsi Pangan Lokal nomor 520/347/415 Tanggal 27 Juli 2020,himbauan itu berisi :

  1. Masyarakat agar mengkonsumsi menu makanan/pangan lokal non beras minimal 1 hari dalam 1 bulan;
  2. Menggunakan menu makanan/pangan lokal dan buah-buahan produksi dalam negeri pada saat rapat dan pertemuan yang diselenggarakan di lingkungan Pemerintah Daerah.
  3. Khusus kepada Lurah menginformasikan kepada masyarakat di wilayahnya melalui Ketua RT dan Ketua RW.

Pengembangan Pangan Lokal, memiliki potensi bisnis yang menjanjikan untuk menambah pemasukan masyarakat, menyerap tenaga kerja dan menambah khasanah potensi pangan suatu daerah sebagai wisata kuliner.

Pada Tanggal 6 Agustus 2020, diselenggarakan Rakord PIPL( Pengembangan Industri Pangan Lokal) 1000 Se-Jawa Tengah  di Tahun 2020. Sumber daya lokal Nusantara yang melimpah berupa 100 jenis tanaman sumber karbohidrat, 100 jenis kacang-kacangan, 250-an jenis sayuran dan 450-an jenis buah-buahan, pemanfaatanya masih sangat terbatas dan belum secara massif dimanfaatkan oleh industri pangan nasional.

Potensi pangan lokal ini harus didorong melalui pemberdayaan UMKM kearah industrialisasi dan komersialisasi hingga marketing digital untuk meningkatkan pendapatan dan skala usaha. Di dalam action plan diversifikasi pangan, ada 3 tahapan :

  1. Ketersediaan bahan baku pangan lokal  melalui peningkatan produktivitas  dan memperluas areal pertanaman;
  2. Akses mendapatkan pangan lokal melalui stabilitas pasokan dan harga serta memperluas skala usaha dan kemitraan;
  3. Pemanfaatan pangan lokal melalui Edukasi dan Promosi.

Adapun Pentahapan Kegiatan di Tahun 2020 ini , dilakukan Edukasi dan Kampanye ke Masyarakat tentang Diversifikasi produk pangan Lokal, Menciptakan Outlet Pangan Lokal dan Pembinaan Produksi dan Branding UMKM.

Panen Raya KWT Binaan Dinas Pangan Kota Salatiga dalam rangka Hari Tani Nasional

Hari Tani – 24 September 2020 –
  • Memperingati Hari Tani Nasional, 24 September 2020 dilaksanakan Panen Raya Bersama Se Jawa Tengah di Kelompok Wanita Tani ( KWT ) Amanah Kelurahan Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir
  • Pelaksanaan Panen Raya ini di hadiri langsung oleh Kepala Dinas Pangan Kota Salatiga, Roch Hadi, SH, MM dengan didampingi Pejabat Struktural dan Staf Dinas Pangan Kota Salatiga,
  • Dari Hasil Panen raya tersebut, Kepala Dinas Pangan memetik hasil panen berupa tomat, Pare, jamur, sawi serta ikan lele yang diberdayakan dalam Budikdamber,
  • Kegiatan Panen Raya ini dihadiri oleh semua anggota KWT Amanah, serta ketua PKK RW yang sangat antusias terhadap pelaksanaan pelaksanaan kegiatan Program Pangan Lestari,
  • Harapanya, keberadaan panen raya ini menjadi stimulan bagi warga lain untuk mengoptimalkan lahan yang dimiliki dan waktu yang dipunyai agar mewujudkan ketahanan pangan bagi keluarga terutama di masa pandemi ini.
Kepala Dinas Pangan sedang melaksanakan panen Raya didampingi ketua KWT Amanah
Produk Unggulan KWT Amanah – Tomat –

Kampanye dan Pendidikan Anti Korupsi dari KPK

Tolak GRATIFIKASI !!!!

berdasarkan surat dari Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia nomor 489/4343/SJ tertanggal 29 Juli 2020 hal Kolaborasi Kampanye Antikorupsi Bersama Pemerintah Daerah, maka :

  1. Kampanye pencegahan tindak pidana korupsi adalah upaya untuk memperkenalkan nilai-nilai antikorupsi kepada masyarakat;
  2. Kampanye perlu dilakukan mengingat pemberantasan korupsi di Indonesia tidak cukup hanya dengan meakukan represif namun juga memerlukan tindakan preventif / pencegahan, sehingga sosialisasi Pemerintah Daerah untuk mendorong serta seluruh masyarakat memahami nilai-nilai antikorupsi;
  3. Kampanye antikorupsi dilakukan melalui penayangan materi sosialisasi kampanye dan pendidikan antikorupsi dalam berbagai kanal media antara lain media elektronik, sosial media/digital atau media luar ruang ( out of home).

beberapa contoh Materi Kampanye dan Pendidikan antikorupsi dari KPK, bisa dilihat sebagai berikut :

https://drive.google.com/drive/folders/1svvkj46rj8TFzi_IzfamxouFdwwt4VzU

https://drive.google.com/drive/folders/1Dd233CJ3bf9KTLq2bfgpQ_XCnbICuJ2V

https://drive.google.com/drive/folders/1Dd233CJ3bf9KTLq2bfgpQ_XCnbICuJ2V

Survei Kepuasan Masyarakat, Persepsi Kualitas Pelayanan dan Persepsi Korupsi Pelayanan Publik Provinsi Jawa Tengah

  • Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan melaksanakan survei kepuasan masyarakar, persepsi kualitas layanan dan persepsi korupsi pada unit pelayanan publik di Provinsi Jawa Tengah.
  • Survei kepada seluruh lapisan masyarakat Jawa Tengah dan Masyarakat luar Jawa Tengah yang pernah mendapatkan layanan publik di Jawa Tengah dilaksanakan melalui penyebaran kuesioner secara daring/online melalui tautan http://bit.ly/SKM_IPKP_IPP
  • Survei akan dilaksanakan selama 30 (tiga puluh) hari terhitung mulai tanggal 30 Juli 2020 sampai dengan 31 Agustus 2020.
  • Hasil survei akan diinformasikan secara terbuka dan akan bermanfaat sebagai data penyanding/second opinion bagi unit penyelenggara pelayanan publik di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang sudah melaksanakan survei dan gambaran obyektif bagi yang belum melaksanakan.

Untuk informasi lebih lanjut dapat mengkontak admin di nomer (0298) 3432545